Casey Stoner, siapa yang saat ini tidak kenal dengan nama pembalap asal Australia ini. Namanya makin membumi, setelah keberhasilannya dalam kejuaraan MotoGP musim 2007. Ia berhasil menyodok posisi pembalap lima kali juara dunia MotoGp Valentino Rossi.
Sosok Stoner dikenal lingkungannya sebagai sosok yang sangat sederhana, baik di dalam ataupun diluar lintasan. Meski sudah memiliki penghasilan yang sangat besar, Stoner bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uangnya, dengan membelanjakan barang-barang mewah seperi mobil supermewah.
Stoner lebih suka menabung untuk masa depannya. Apalagi dikatakan sang ayah Colin Stoner, bila pensiun nanti Stoner akan kembali ke Autralia dan tinggal dipeternakkan dan membesarkan sapi.
"Dia adalah seorang anak desa sejati. Ketika karir membalapnya sudah berakhir, dia mungkin akan pulang (ke Australia)," ujar Colin.
Tidak hanya itu, Stoner juga dikenal bukan tipe cowok yang suka berdandan berlebihan, bahkan ia lebih senang berdandan sederhana dan kalem. Jadi tidak heran, bila pembalap asal Australia ini lebih suka bersama keluarga ketimbang berfoya-foya.
Karena itu, menemukan ia mabuk-mabukkan dan mengganteng wanita atau gadis-gadis penggemarnya di sebuah kelab malam bagaikan mendirikan sebuah benang basah. Sebuah pemandangan yang tak akan mungkin terjadi. Bahkan ketika sukses memenangi lomba, Stoner merayakannya bersama keluarga.
Kesederhanaan Stoner sangat berdasar, dimana ia ingat betul bagaimana kedua orangtuanya Colin dan Bronwyn, yang rela berkorban agar ia bisa menjadi pembalap seperti sekarang. Dan untuk itu, ia tidak marah ketika dibilang kampungan, sebab stoner merasa tidak boleh melupakan asal usulnya.
"Orang tua lah yang membuat saya selalu sadar diri, untuk tidak hidup berlebihan. Kalau senang jangan terlalu senang, kalau sedih jangan terlalu sedih. Karena agamaku menegaskan bahwa nyawa, harta, dan yang ada di dunia ini cumalah titipan sesaat dari Allah, " kata Stoner.
Sekilas perjalanan keluarga Stoner, tepat tujuh tahun lalu dimana Stoner baru berusia 14 tahun, keluarganya menjual harta bendanya di Australia dengan pindah ke Inggris.
Kepindahan keluarga Stoner bermula, dengan melihat prestasi gemilang Stoner yang menunjukkan dominan di arena dirt track menghadapi lawan seumurannya. Melihat kemampuan sang anak, Collin tidak mau menunggu-nunggu. Ia langsung melakukan hijrah ke Inggris, dimana batas minimun untuk road racing berusia 14 tahun, sedangkan di Australia, usia minimum adalah 16 tahun.
Tinggal di negeri orang, ternyata tidak semudah dibayangkan Collin. Keluarga Stoner mau tidak mau tinggal di dalam sebuah karavan. Stoner sungguh beruntung, dalam perjalanan merintis karirnya ia dibantu Lucio Cecchinello, yang merupakan mantan pembalap hebat Italia yang memiliki tim di arena grand prix.
Gambling besar itu berbuah hasil besar pula. Stoner mampu berkembang pesat. Tahun lalu, bersama Honda LCR milik Cecchinello, Stoner masuk kelas MotoGP. Tahun ini, dia pindah ke tim pabrikan, Ducati Marlboro.
Sekarang, Stoner dan keluarga sudah benar-benar mapan. Tahun lalu, dia hanya digaji $AS 200 ribu (sekitar Rp 1,8 miliar). Tahun ini, kabarnya sudah mencapai $AS 1 juta (Rp 9,2 miliar) plus bonus kemenangan. Tahun depan dan selanjutnya, semua modal dipastikan sudah kembali.
Tak heran, usai mencuri gelar di Motegi, Stoner menyebut orang tua sebagai orang pertama yang perlu diucapi terima kasih. "Ada banyak orang yang harus saya beri ucapan terima kasih. Namun orangf pertama yang layak menerima ucapan saya adalah orang tua saya yang telah mendukung sepanjang karir saya. Juga istri saya, yang telah menemani selama ini. Serta semua orang yang telah membantu saya. Tim (Ducati), Bridgestone, dan lain-lain," ujarnya seperti dikutip situs resmi MotoGP.




