Indonesia sangat membutuhkan sirkuit balap yang permanen. Berbagai kegiatan otomotif berskala besar biasanya terkendala oleh tempat pertandingan.
''Selama ini hanya ada satu sirkuit yang permanen, yakni di Sentul, Bogor. Daerah-daerah lain tidak layak untuk menjadi tempat turnamen besar,'' ungkap Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia, Juliari Batubara, Senin (30/7).
Ungkapan Arie, panggilan akrab Juliari, terkait dengan kurang suksesnya penyelenggaraan kejuaraan nasional balap motor Indoprix yang putaran pertamanya berlangsung di Sirkuit Skyland Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, bulan lalu. Kegiatan yang direncanakan sebagai ajang MotoGP Indonesia itu kurang banyak diminati karena bentuk sirkuitnya tidak seperti yang dijanjikan, yakni secara permanen.
Arie menyatakan untuk keperluan itu pihaknya sudah mengungkapkan pada pemerintah, harus dibangun satu sirkuit lagi untuk bisa menampung para pembalap yang ingin berlaga secara permanen. Ini bertujuan selain menghindari monopoli, juga mengantisipasi perkembangan olahraga balap. Selain itu juga akan bisa mengangkat prestasi pembalap Indonesia untuk segera go international, bisa juga berdampak ekonomi yang luar biasa.
''Sekarang balap menjadi olahraga terpopuler kedua setelah sepak bola. Sangat sayang kalau kesempatan ini dibuang,'' ujar Arie.
Sirkuit yang digunakan pada seri perdana hanya berasal dari jalanan yang diubah menjadi arena balapan. Tentu hasilnya kurang maksimal. Selain jalannya tidak dibuat khusus, dari segi keamanannya minim. Tak mengherankan pada seri perdana catatan waktu yang ditoreh pembalap kurang maksimal karena takut terjadi kecelakaan apabila memacu kendaraannya secara kencang.
Seri kedua Indoprix akan berlangsung di Park Cirkuit Kenjeran, Surabaya, pada 12 Agustus mendatang. Arie berharap pada sirkuit nanti panitia bisa menyulap tempat bertanding, seperti seolah-olah sirkuit permanen lengkap dengan tantangan dan pengamanannya. ''Kita memang akan membuat besar Indoprix. Target saya dalam tiga tahun nanti bisa terbesar se-Asia Tenggara,'' jelasnya.
Arie mengakui penyelenggaraan pertama memang terkesan sangat tergesa-gesa. Kendati sudah direncanakan, banyak agenda balapan yang bertabrakan. Hal ini berakibat pada kurang banyaknya pembalap-pembalap top nasional yang berlaga.
Pada seri kedua nanti dipastikan seluruh pembalap nasional akan ikut bergabung. Termasuk juga pembalap-pembalap top dari Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia. ''Secara lisan mereka sudah menyatakan bersedia datang. Kita tinggal menunggu konfirmasi resminya saja,'' kata Arie.
Indoprix seri kedua akan memperlombakan kelas MP1 (110 CC) dan MP2 (125 CC) ditambah MP5 (umur maksimal 18 tahun) dan balapan pendukung lainnya. Menurut Ketua Pengda IMI Jatim, Anton Abdullah, pihaknya sudah menyulap lapangan menjadi sirkuit yang bertaraf internasional. (Republika/rim)




