Jumat, 30 November 2007

Bali saatnya memiliki sirkuit standar Internasional


Pembalap dari Mezzo Toyota Team Indonesia (MTTI), Dandy Rukmana mengusulkan agar Bali juga dibangun atau memiliki sirkuit berkaliber internasional, sehingga dunia otomotif Indonesia makin mendapat perhatian khusus dunia, dan secara langsung pariwisata di Bali makin lengkap. Hal ini mengingat nama pulau Bali cukup akrab di mata masyarakat dunia.

"Seandainya di Bali dibangun sirkuit seperti Sentul bagus sekali. Bila suatu saat ada event kita bisa balap di sana. Sebaliknya pembalap daerah, khususnya Bali bisa lebih berprestasi lagi. Selain itu, dengan adanya sirkuit bertaraf dunia, pariwisata Bali akan berkembang pesat. Turis-turis pun banyak yang tertarik untuk datang, atau menonton event balap berskala internasinal," ujarnya.

Dandy, berharap, bila di Bali nantinya dibangun lintasan balap kaliber dunia, maka secara langsung maupun tidak, perkembangan dunia otomotif tanah air akan lebih pesat. Tentu, banyak harapan dari masyarakat pecinta otomotif tanah air bisa menonton langsung balap F1 atau menyaksikan aksi-aksi dramatis dari Valentino Rossi, Chris Vermeulen, atau Casey Stoner di ajang MotoGP, layaknya di sirkuit Sepang Malaysia yang menjadi langganan seri F1 dan MotoGP.

Namun, kata Dandy, pengelolaan sirkuit nantinya harus jelas dan profesional, layaknya di Sepang. Soal pengelolaan sirkuit balap, harus diakui, Negeri Jiran memang lebih baik dibanding Indonesia.

Putra pasangan pasangan Mbak Tutut dan Indra Rukmana ini mengaku terjun ke dunia balap sejak usia 16 tahun, dan sejak itu sederet prestasi berhasil ditorehkannya. "Saya mulai balap pada umur 16 tahun. Saya mulai balapan di Ancol, waktu itu awalnya ikut balap Enduro yang 7 jam. Mobil yang saya pakai waktu itu Ford X3. Dan balap mobil memang hobi saya sampai sekarang," katanya.

Bisa diceritakan bagaimana Anda bisa bergabung dengan MTTI? "Kebetulan diajak oleh mereka (MTTI). Buat saya ini adalah suatu kehormatan. Saya merasa terhormat bergabung dengan tim pabrikan seperti MTTI," tambahnya.

Pembalap yang pernah menapak podium kedua pada kelas GTCC bersama Vios-nya di seri V tahun 2006 ini, mengaku dapat beradaptasi dengan tim yang relatif singkat. Menurut Dandy, menghadapi seri ITCC berikutnya, dengan kerja sama tim yang kompak, ia bertekad untuk memberikan hasil yang terbaik.
Diinggung tentang keputusannya alih sirkuit dari reli ke balap mobil di sirkuit? Menurut ia, pertimbangannya sangat banyak. Salah satunya soal waktu balapan. Do nomor reli mobil membutuhkan waktu yang lama, sementara balap sirkuit cukup sehari sudah pulang ke rumah.
"Saat ini, saya sudah tidak sendiri lagi. Ada seseorang di rumah yang menanti terus. Jika saya tetap di reli mobil, wah bahaya dong. Dia (red. Lulu Tobing) kasihan sendirian di rumah. Selain itu, saya ini bawaannya gak tegaan mas," kelakarnya sambil pamit mengunci wawancara via telpon. (ima)