Selasa, 03 Juli 2007

Kejuaraan Gokart Asia Berbuntut Protes


Pegokart Indonesia berjaya di kandang. Mereka menuai sukses dalam Asian Max Challenge (AMC) III di Park Sirkuit, Kenjeran, Surabaya, Minggu (1/7).
Pada kelas bergengsi senior, Indonesia merajai kelas tersebut dengan menguasai tiga besar race final dalam even yang juga dilaksanakan bersamaan dengan Kejurnas Gokart Seri IV tersebut.

Ryan Haryanto dari Tim Kiky menjadi juara dengan catatan waktu tercepat 12 menit 12,9 detik. Pembalap asal Solo, Jawa Tengah, tersebut relatif tidak mendapatkan perlawanan berarti dari peringkat kedua, Rama Danindro (Renatama Racing Jakarta). Jarak antara Ryan dengan Rama saat finis terpaut 5,931 detik.
Sayang, di kelas junior, pegokart Indonesia harus mengakui ketangguhan pegokart Malaysia. Calvin Wong Weng Man (RL Karting) yang berhasil menjuarai kelas bagi pegokart berusia 11-17 tahun tersebut dengan catatan waktu 09 menit 59,474 detik. Andalan Indonesia, M. Senna S.N. (Shadaff Dunkin Donuts) harus puas di posisi kedua.
Selain dua kelas Asia tersebut juga dipertandingkan kelas veteran dan kadet 60 cc. Terutama di kelas kadet, balapan di sirkuit yang disebut-sebut salah satu yang terbaik di Indonesia ini juga mempertandingkan para pembalap-pembalap cilik, khusus mereka yang berasal dari Jawa Timur.
"Kami memang sengaja membuat kelas khusus pembalap Jatim karena pada tahun ini pembalap Jatim meningkat hingga 10 pembalap," kata promotor even tersebut, Iwan Budi Buana.
Atmosfer pembalap-pembalap Jatim kali ini, menurutnya, sangat besar. Ini tak lepas dari semakin akrabnya dunia balap di kalangan masyarakat umum.
"Gokart sendiri sudah menjamur di banyak pusat perbelanjaan. Kami harap tahun depan bisa lebih banyak pembalap-pembalap Jatim yang turut serta di even ini," ujar Iwan.
Tapi, berakhirnya perhelatan tersebut menyisakan masalah bagi IMI (Ikatan Motor Indonesia). Itu disebabkan Pengprov IMI Jatim menilai bahwa Pronas (Promotor Nasional) IKC (Indonesia Karting Club), Iwan Buana, tidak menjalankan komunikasi yang baik dengan daerah.
Inus Triamboko, ketua harian Pengprov IMI Jatim, mengungkapkan bahwa berlangsungnya even itu karena keterpaksaan.
Dia mengatakan bahwa salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah menggandeng klub daerah yang ditempati kejuaraan. Tapi, klub-klub yang ada di Jatim enggan untuk bekerja sama dengan Pronas IKC.
"Mereka itu ingin berbuat semaunya. Seolah-olah kami yang membutuhkan sehingga komunikasi yang mereka lakukan itu bukan dengan cara yang baik, tetapi memerintah. Klub-klub Jatim tidak mau itu karena hanya dipakai sebagai nama tapi tidak dilibatkan," ungkap Inus.
Dia menambahkan bahwa kejuaraan itu akhirnya berlangsung karena pertimbangan kepentingan yang lebih besar. Itu dikarenakan sudah ada sekitar 19 pembalap luar negeri yang datang.
"Karena hal itu, Anton Abdullah (ketua klub Anton Speed Line (ASL), red) mau menjadi klub pendamping. Ini kan tidak hanya urusan prosedur IMI tetapi juga soal nasionalisme. Tapi, itu hanya sebatas nama, ASL tidak mendapat uang sepeser pun," ujarnya.
Dengan kondisi itu, dia mengatakan akan melakukan protes terhadap IMI Pusat soal Pronas yang tidak berkoordinasi dengan baik terhadap pengurus daerah. Untuk itu, pada saat Rakernas IMI yang bakal dilangsungkan pada Desember mendatang di Semarang, IMI Jatim akan membawa masalah itu untuk diselesaikan.
"Kalau kami protes dengan tersurat kepada PP IMI. Tetapi, itu belum meluas. Sehingga kami akan mempersoalkan itu saat Rakernas nanti. Soal solusinya, kami menunggu reaksi dari daerah-daerah lain. Tujuannya adalah agar hal itu tidak terulang. (jp.dok)